Saat itu adalah hari menjelang UN. Tidak tahu kenapa kami kesambet ingin belajar dan ditentukanlah waktu untuk belajar bersama di tempat les. Kami berempat belajar fisika.. Yahh tidak mengherankan kami belajar sambil bercanda ketika itu dan guru kamipun suka kami ledek apabila ada soal yg tak bisa beliau jawabnya. Maklum saja jika kami bersama, terkadang orang lainlah yg kami isengin untuk menjadi bahan topik pembicaraan. Setelah kami selesai belajar bersama kamipun langsung pulang. Beberapa langkah kami ayunkan kaki kami ke depan. Ada 2 orang bapak-bapak yg memanggil kami selepas kencing di tembok. Bapak yang pertama memanggil kami dan satunya melihat kanan-kiri, dengan perasaan bingung kamipun langsung mendatanginya tanpa berfikir panjang,
"Kalian kenal yg bernama x (sebut saja jono)? Apakah dia suka mengganggu kalian?". Bapak pertama itu membuka pertanyaan
"Tidak Om, kami juga tidak mengenal orang itu." Yogi menimpali pertanyaan bapak itu
"Loh katanya yang Om sering denger anaknya suka malakin anak-anak yang les di tempat ini ya? Maksud Om ingin menolong kalian untuk mencari anak itu segera karena saya adalah pamannya."
(sejenak kami terdiam dan mengangguk-anggukan kepala)
"Tolong Satu-satu dari kalian tolong catat nomor saya apabila kalian dipalaki olehnya." (dengan nada suara yang agak tegas).
(Kamipun bergegas mulai mencatat.)
"Sini ikut saya" sambil menarik tangan Yogi, mengajak untuk berdiri.
"Kalian bertiga tunggu disini sampai om kembali yah. Untuk mempercayai kalian masih menunggu disini handphone kalian akan dipegang oleh Yogi untuk ikut dengan om menuju tempat biasa dia nongkrong. Santai saja handphone kalian tidak akan saya ambil kok karena ini untuk mempercayai bahwa kalian tidak meninggalkan teman kalian ini." Sahut bapak kedua yang sedari tadi sudah melihat keadaan sekitar
"Kalian bertiga tunggu disini sampai om kembali yah. Untuk mempercayai kalian masih menunggu disini handphone kalian akan dipegang oleh Yogi untuk ikut dengan om menuju tempat biasa dia nongkrong. Santai saja handphone kalian tidak akan saya ambil kok karena ini untuk mempercayai bahwa kalian tidak meninggalkan teman kalian ini." Sahut bapak kedua yang sedari tadi sudah melihat keadaan sekitar
Akhirnya kami pun ngasih handphone ke Yogi untuk dibawa sebagai jaminan supaya mereka percaya kami tidak akan meningglkan teman kami itu. Tapi saat itu kebetulan di antara kami hanya Bogielah yang tidak membawa handphone. Om itu pun langsung pergi bersama Yogi dengan membawa handphone kami. Tak sadar setelah itu kami baru saja dihipnotis olehnya. Kami hanya bisa terdiam dan mengangguk. Sejam kemudian pun berlalu, Yogipun akhirnya datang ke arah kami turun dari angkutan umum. Mukanya penuh kecemasan dan pucat murung. Saya pun bertanya dan memulai pembicaraan kami,
"Tadi lu dibawa kemana? Kok lama banget? dengan muka heranku
"Tadi gua dibawa ke tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Handphone lu pada diambil dan gua diancam tadi. Gua pengen teriak tadi tapi percuma aja karena sepi banget."
Kami pun serempak menjadi murung dan pergi ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadian tersebut.
"Tadi lu dibawa kemana? Kok lama banget? dengan muka heranku
"Tadi gua dibawa ke tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Handphone lu pada diambil dan gua diancam tadi. Gua pengen teriak tadi tapi percuma aja karena sepi banget."
Kami pun serempak menjadi murung dan pergi ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadian tersebut.
Yahhhh...Walapun laporan kami tidak begitu ditanggapi oleh polisi karena usia kami yang masih dini dan pastinya polisi akan berjalan jikalau ada uang yg mengalir di tanah air tercinta kita. Keesokan harinya, kejadian kemarin pun menjadi pembicaraan hebat di kelas dan herannya mengapa kami berempat sama-sama atlit Taekwondo yang sering ikut kejuaraan kesana-kemari, namun masih saja bisa dibodohin dengan muka pongo kami -__-"




