Terkadang keinginan bukanlah yang terbaik bagi kita, begitu pula dengan ketidakmauan. Hal itulah yang memunculkan "Realita vs Harapan". Bagi setiap orang.... sangat mendambakan mimpi-mimpinya, ada yang gila ketika mimpinya tak tercapai, adapula yang menjadi sombong dan tak tahu diri ketika hal itu tercapai, begitu juga denganku yang hanya menginginkan impian kecilku, kuliah.
Selepas SMA, tak seperti kebanyakan orang merayakan kemenangan bahkan hingga membuat party yang gak jelas itu. Bagiku, ada rasa pahit yang dirasa...selepas SMA ini, aku dihadapkan berbagai ujian karena ketidaktembusanku dalam SBM, ya... Ujian mandiri yang diadakan per universitas, kala itu aku sangat bingung, antara kebodohan atau harga masuk yang menjadi patokan untuk di terima di sebagian ujian mandiri yang kuikuti, mereka menyebutnya sebagai sumbangan. Hingga pada akhirnya ujian yang telah ku ikuti lebih dari sejuta hanya mendaftar sebagai peserta ujian, ya.. Hasilnyapun sangatlah nihil, begitu pula dengan beasiswa luar negeri yang sangat digembor-gemborkan di internet, bulak-balik sekolah maupun kepolisian hanya untuk dimintai keterangan sampai pergi ke kedubesnya yang tak jarang menanyakan statusku saat ini yang pada akhirnya mereka hanya bisa mengatakan "semangat" yang sebenarnya tak kuinginkan. hasil beasiswa itupun Nihil.
Ini salah... Serasa harga diri ini sangat rendah ketika melihat teman seperjuanganku bisa mendapatkan apa yang mereka mau, ya kuliah. tak tahu apa yang harus dilakukan, semua sudah terlewatkan. Akhirnya akupun mendapatkan stempel alumni ketika memikirkan berbagai pertimbangan dan risikonya, kata orangsih itu stempel orang malas, bodoh, dan tidak serius dalam belajar. Bahkan tertawa bercanda melihatku seperti itu. Berkat stempel inipun membuat diri ini menjadi pribadi yang tertutup untuk melihat dunia yang aku ikuti dahulu. "Loh, gue orangnya sering belajarkok, berorganisasi, dan alhamdulillah masih beriman" pikir dalam hati ketika termenung dalam kegalauan nyata.
Tetapi, apakah dunia ini adil bagiku atau hanya drama belaka yang hanya bisa memojokanku. Namun aku sadar "Nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Hal itulah yang akhirnya setahun ini aku memberanikan memegang amanah stempel itu dengan bertujuan mendapatkan hasil terbaik, membahagiakan keluargaku, membuat air mata bahagia orangtua, dan membalas tawaan mereka dengan mengikuti les di tempat bimbel yang seperti sekolah bagiku, yaitu BTA yang kuikuti setelah mendapatkan saran dari temanku. Setahun itupun aku ikuti dengan komunitas Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) di planetarium, les bahasa Inggris, mengikuti seminar-seminar yang diadakan Universitas, serta Tryout Akbar ujian masuk PTN. Semua kulakukan untuk menghilangkan rasa boring dalam mengisi hari-hari yang tak bermakna. Namun semua itu terbayarkan yang akhirnya aku keterima di UI. Alhamdulillah.
Tetapi, apakah dunia ini adil bagiku atau hanya drama belaka yang hanya bisa memojokanku. Namun aku sadar "Nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Hal itulah yang akhirnya setahun ini aku memberanikan memegang amanah stempel itu dengan bertujuan mendapatkan hasil terbaik, membahagiakan keluargaku, membuat air mata bahagia orangtua, dan membalas tawaan mereka dengan mengikuti les di tempat bimbel yang seperti sekolah bagiku, yaitu BTA yang kuikuti setelah mendapatkan saran dari temanku. Setahun itupun aku ikuti dengan komunitas Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) di planetarium, les bahasa Inggris, mengikuti seminar-seminar yang diadakan Universitas, serta Tryout Akbar ujian masuk PTN. Semua kulakukan untuk menghilangkan rasa boring dalam mengisi hari-hari yang tak bermakna. Namun semua itu terbayarkan yang akhirnya aku keterima di UI. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar